hipertensi

Penanganan Hipertensi

Hipertensi merupakan penyakit degenerative yang terjadi pada lansia. Penyakit ini biasanya menyerang tanpa gejala yang pasti. Apabila penanganan hipertensi salah maka dapat menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu kita perlu tahu bagaimana penanganan hipertensi yang benar.
Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu
1.       Farmakologi.
Golongan obat antihipertensi yang banyak digunakan baik dengan atau tanpa resep dokter yaitu
a.       Diuretik tiazid (misalnya bendroflumetiazid)
Diuretik tiazid adalah diuretic dengan potensi menengah yang menurunkan tekanan darah dengan cara menghambat reabsorpsi sodium pada daerah awal tubulus distal ginjal, meningkatkan ekskresi sodium dan volume urin. Tiazid juga mempunyai efek vasodilatasi langsung pada arteriol, sehingga dapat mempertahankan efek antihipertensi lebih lama. Tiazid diabsorpsi baik pada pemberian oral, terdistribusi luas dan dimetabolisme di hati.  Efek diuretik tiazid terjadi dalam waktu 1‐2 jam setelah pemberian dan bertahan sampai 12‐24 jam, sehingga obat ini cukup diberikan sekali sehari

Peningkatan eksresi urin oleh diuretik tiazid dapat mengakibatkan hipokalemia, hiponatriemi, dan hipomagnesiemi. Hiperkalsemia dapat terjadi karena penurunan ekskresi kalsium. Interferensi dengan ekskresi asam urat dapat mengakibatkan hiperurisemia, sehingga penggunaan tiazid pada pasien gout harus hati‐hati. Diuretik tiazid juga dapat mengganggu toleransi glukosa(resisten terhadap peningkatan diabetes mellitus tipe 2)
b.      beta‐bloker, (misalnya propanolol, atenolol,)
Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan memacu penglepasan neurotransmitter yang meningkatkan aktivitas system saraf simpatis. Stimulasi reseptor beta‐1 pada nodus sino‐atrial dan miokardiak meningkatkan heart rate dan kekuatan kontraksi. Stimulasi reseptor beta pada ginjal akan menyebabkan penglepasan rennin, meningkatkan aktivitas system renninangiotensin‐aldosteron. Efek akhirnya adalah peningkatan cardiac output, peningkatan tahanan perifer dan peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron dan retensi air. Terapi menggunakan betablocker akan mengantagonis semua efek tersebut sehingga terjadi penurunan tekanan darah.
Efek samping :
·         Blokade reseptor beta‐2 pada bronkhi dapat mengakibatkan bronkhospasme, bahkan jika digunakan beta‐bloker kardioselektif.
·         Efek samping lain adalah bradikardia, gangguan kontraktil miokard, dan tanga‐kaki terasa dingin karena vasokonstriksi akibat blokade reseptor beta‐2 pada otot polos pembuluh darah perifer.
·         Kesadaran terhadap gejala hipoglikemia pada beberapa pasien DM tipe 1 dapat berkurang. Hal ini karena betablocker memblok sistem saraf simpatis yang bertanggung jawab untuk “memberi peringatan“ jika terjadi hipoglikemia.
·         Berkurangnya aliran darah simpatetik juga menyebabkan rasa malas pada pasien.
c.       Penghambat angiotensin converting enzymes (misalnya captopril, enalapril),
d.      antagonis angiotensin II (misalnya candesartan, losartan),
e.      calcium channel blocker (misalnya amlodipin, nifedipin)
f.        alphablocker misalnya doksasozin.
2.       Non Farmakologi.
a.       Pembatasan garam dalam makanan sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya
http://images.solopos.com/2012/03/20garam.jpg
b.      Pengawasan berat badan dengan cara membatasi dan mengurangi makanan yang berlemak.

c.       Melakukan olahraga yang tidak terlalu berat setiap hari secara teratur.


0 Response to "hipertensi"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel