Pengobatan Tradisional dan Konvensional pada Demam


            Demam merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh masyarakat khususnya masyarakat di Indonesia. Penyakit demam ini biasanya lebih sering di derita oleh anak – anak. Masalah demam oleh sebagaian masyarakat dianggap masalah biasa yang tak perlu di khawatirkan. Namun sebagian lainnya menganggap demam merupakan suatu penyakit yang harus diwaspadai karena terkadang demam menunjukan gejala penyakit lain dan merupakan suatu respon terhadap penyakit dan infeksi akibat interaksi dengan lingkungan.
            Dalam menanggapi penyakit demam ini, beberapa masyarakat lebih memilih mengobatinya dengan cara yang tradisional karena mudah dan murah. Sebagian lainnya lebih memilih memeriksakan ke dokter dan diobati dengan modern. Namun disetiap pengobatan memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri – sendiri. Sehingga setiap masyarakat diberi kebebasan dalam menangani masalah demam.Demam adalah peningkatan suhu badan rektal minimal 380C. demam merupakan tanda adanya masalah yang menjadi penyebab, bukan  suatu penyakit , dan tidak terjadi  dengan sendirinya. (1) Demam juga merupakan proses respons pertahanan terhadap microorganisme atau benda mati yang dianggap mati dengan tanda meningkatnya suhu inti. (2)  Demam didefinisikan  sebagai temperatur rektal diatas 380C, aksilar diatas 37,50C dan diatas 38,20C dengan pengukuran membran timpani, sedangkan demam tinggi bila suhu tubuh diatas 39,5 0 C dan hiperpireksia bila suhu >41,0 C. (3) (4)
            Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang mengatur keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Berbagai laporan penelitian menunjukan bahwa peningkatan suhu tubuh berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsangan. Rangsangan eksogen seperti eksotoksin dan endotoksin menginduksi leukosit untuk mengeluarkan pirogen endogen.  Pirogen endogen  bekerja pada system saraf pusat pada tingkat Organum Vasculosum Laminae Terminalis (OVLT) yang dikelilingi oleh bagian medial dan lateral nucleus preoptik, hipotalamus anterior dan septum palusolum. Sebagai respons terhadap sitokin tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis prostaglandin dan menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama demam.  Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas, sementara vasokontriksi kulit juga berlangsung  untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. (5) Hal tersebut diatas juga mempengaruhi termoregulasi manusia.
Demam umumnya terjadi akibat adanya gangguan pada hipotalamus, atau sebaliknya dapat di sebab kan oleh setiap gangguan berikut. (1)
1. Penyebab umum demam pada bayi antara lain infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, faringitis, otitis media, dan infeksi virus umum dan enterik. Reaksi vaksinasi dan pakaian tebal juga sering menjadi penyebab demam pada bayi. 
2 Penyebab demam yang lebih serius antara lain infeksi saluran kemih, pneumonia, bakteremia, menimgitis, osteomielitis, artritis septik, kanker, gangguan imunologik, keracunan atau overdosis obat, dan dehidrasi.
Hasil penelitian ternyata 80% orangtua mempunyai fobia demam. Orang tua mengira bahwa bila tidak diobati, demam anaknya akan semakin tinggi. Kepercayaan tersebut tidak terbukti berdasarkan fakta. Karena konsep yang salah ini banyak orang tua mengobati demam ringan yang sebetulnya tidak perlu diobati. Demam < 390C pada anak yang sebelumnya sehat pada umumnya tidak memerlukan pengobatan. Bila suhu naik > 390C, anak cenderung tidak nyaman dan pemberian obat-obatan penurun panas sering membuat anak merasa lebih baik. (4)
            Penanganan demam bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti memakai kompres, plaster penurun panas dan obat – obat lainnya. Dalam memakai kompres biasanya masyarakat lebih cenderung memakai kompres air dingin, mereka berpikir bahwa suhu tubuh yang panas jika di beri air dingin maka suhu akan stabil. Namun sebenarnya kompres dingin tidak begitu baik untuk menurunkan demam karena selain kurang nyaman juga dingin akan merangsang produksi panas dan menghalangi pengeluaran panas tubuh.  Sehingga kompres dingin tidak efektif dalam menurunkan demam. Selain kompres dingin, masyarakat juga mengenal kompres hangat. Kompres hangat pada kulit dapat menghambat shivering dan dampak metabolik yang ditimbulkannya. Selain itu, kompres hangat juga menginduksi vasodilatasi perifer, sehingga meningkatkan pengeluaran panas tubuh. (6)
            selain kompres air, juga terdapat kompres alkohol dalam menurunkan panas. Meskipun alkohol juga bisa digunakan untuk kompres, namun sebisa mungkin menghindari kompres dengan alkohol sebab kompres alkohol menimbulkan beberapa efek yang membahayakan. Efek dari penggunaan kompres alkohol yaitu bila kompres alkohol terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan keracunan.
            Selain kompres konvensional, penurunan demam dapat dilakukan menggunakan kompres menggunakan hidrogel. Hidrogel merupakan polimer dengan struktur ikatan silang (crosslink) yang mengandung air dalam jumlah besar (> 70%), serta tidak larut dalam air. Adanya kandungan air yang besar dalam struktur hidrogel dapat dimanfaatkan untuk menurunkan demam melalui penyerapan panas (energi) dari bagian tubuh yang demam serta menguapkannya. (7)
            Penggunaan obat – obatan juga sering dilakukan oleh banyak orang tua agar anaknya cukup nyaman saat demam. Untuk menanggani demam, obat yang digunakan merupakan antipiretik. Ada beberapa golongan antipiretik di Indonesia yaitu
1.      Golongan antipiretik murni. Termasuk dalam golongan ini adalah asetaminofen (Paracetamol, Tempra, Termorex, dll), asetosal (Bodrex), dan ibunopren (Proris).
2.      Golongan Chlorpromazine.
3.      Golongan aminopyrin dan fenacetin.
Golongan antipiretik murni dapat menurunkan demam pada saat demam dan tidak menyebabkan suhu sangat rendah bila tidak ada demam. Sedangkan untuk antipiretik yang kedua dan ketiga dapat menyebakan suhu rendah pada anak yang tidak demam, penggunaannya juga harus dengan petunjuk dokter.
            Berdasarkan uraian diatas, obat yang akan dibahas lebih lanjut yaitu antipiretik murni. Pertama yaitu Paracetamol. Di Indonesia, paracetamol merupakan obat bebas karena paracetamol tidak menyebabkan efek inflamasi dalam tubuh. Paracetamol memiliki sifat analgesic yang mengurangi dan menghilangkan nyeri. Obat yang merupakan Parasetamol  yaitu  Panadol, INZA dan Bodrex. Meskipun penjualan paracetamol ini bebas, namun masyarakat perlu mengetahui dosis yang dianjurkan dalam penggunaan paracetamol.
            Dosis yang dianjurkan adalah 10-15 mg/kg/kali setiap 4-6 jam (4kali/hari). Masyarakat yang mengindahkan dosis dari paracetamol ini, kemungkinan akan mengalami efek samping dari parasetamol yaitu reaksi hipersensitivitas berupa eritema atau urtikaria dengan jelas yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa (Sindroma Steven Johnson). Pemberian paracetamol yang bersamaan dengan pemberian ibuprofen dapat meningkatkan resiko gangguan hati dan ginjal. (5)
            Obat yang kedua yaitu ibuprofen. Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja menekan pembentukan prostaglandin. Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi yang memiliki efek samping berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin. Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen). Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam. (6) Ibuprofen dapat diuberikan untuk anak berumur > 6 bulan, namun jangan diberikan pada anak yang dehidrasi atau sering muntah. (5)
            Aspirin merupakan analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi yang memiliki efek antikoagulan. Contoh dari aspirin yaitu Bodrexin dan Inzana. Aspirin merupakan obat yang efektif untuk demam tapi tidak direkomendasikan pada anak berusia < 16 tahun, karena aspirin dapat menghambat aktifitas trombosit dan dapat  memicu risiko pardarahan. Hal tersebut juga membuat aspirin tidak dianjurkan untuk menurunkan suhu tubuh pada demam berdarah dengue. (5)
           Selain obat-obat modern diatas juga terdapat pengobatan tradisional demam. Pengobatan tradisional demam diperoleh dari turun temurun leluhur. Setiap daerah memiliki tradisi dan cara yang tidak sama dalam menanggapi demam. Banyak tumbuhan dan rempah yang digunakan masyarakat untuk menurunkan demam seperti bawang merah, daun beluntas, kulit kayu dan daun anyang-anyang, daun sambiloto, daun kaki kuda, dll.
           Cara penggunaan tumbuhan dan rempah dalam menurunkan demam ini bermacam-macam. Pada bawang merah untuk menurunkan panas, caranya yaitu delapan siung bawang merah dicuci, kemudian ditumbuk halus dan dicampur dengan air kapur sirih secukupnya.kemudian dibalurkan di punggung, leher, perut, dan kaki. (8) Untuk daun beluntas, daun beluntas diseduh dengan air panas, setelah agak dingin disaring dan diminum sekaligus satu kali sehari. Cara penggunaan kulit kayu dan daun ayang-ayang yaitu empat gram kulit kayu atau daun ayang-ayang dan ditambah 110 ml air diseduh. Ramuan yang sudah jadi diminum dua kali sehari sekali minum 100 ml dengan lama pengobatan empat hari untuk menurunkan demam. (9)
            Kemudian juga terdapat daun sambiloto untuk menurunkan demam. Cara penggunaanya yaitu daun sambiloto satu genggam direbus dengan air bersih tiga gelas hingga tinggal separuhnya, setelah dingin kemudian disaring dan diminum tiga kali sehari secara teratur setengah gelas tiap kali minum. Untuk yang terakhir yaitu daun kaki kuda satu genggam di giling halus, lalu ditambah air matang dua gelas dan disaring. Selanjutnya ditambah tiga siung bawang putih yang sudah dipanggang, air jeruk nipis dari satu buah jeruk nipis, dan garam secukupnya. Pemakaiannya dengan diminum dua sampai tiga kali sehari dengan setiap kali minum satu gelas. Dengan mengetahui manfaat tanaman dan rempah  dalam menurunkan demam, dapat dijadikan alternatif pengobatan penurun demam lain yang diharapkan lebih efektif menurunkan dan mengurangi gejala penyakit yang sebenarnya. (10)
Pengolahan tanaman obat untuk dijadikan ramuan herbal penting untuk dipelajari. Terdapat beberapa cara  pengolahan tanaman obat  seperti ditumbuk, diseduh, diekstraksi dan dibuat menjadi sediaan infus maupun serbuk. Hal ini berkaitan dengan perolehan zat aktif yang berperan sebagai penurun demam yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Kandungan zat aktif atau senyawa yang berperan sebagai antipiretik (penurun panas) dari tumbuh – tumbuhan tersebut belum seluruhnya diketahui atau dipastikan. (11) Oleh karena itu perlu adanya pengkajian dan penelitian tentang efektifitas obat modern dan tradisional/herbal untuk menurunkan demam.
Pengobatan tradisional atau modern dalam penurunan demam perlu diketahui oleh masyarakat. Baik pengobatan tradisional maupun modern, masing-masing memiliki keunggulan tersendiri yang diyakini oleh para penggunanya. Namun, masyarakat perlu memperhatikan obat yang akan digunakan dalam menurunkan demam. Sehingga masyarakat dapat meminimalisir efek yang membahayakan dari obat/ramuan herbal yang akan digunakan. Penelitian klinis lebih lanjut diperlukan untuk menentukan kemanjuan antara pengobatan tradisional dan modern sekaligus agar masyarakat tidak akan kebingungan dalam memilih obat penurun demam dan agar masyarakat tidak akan khawatir lagi apabila telah dilakukan penelitian tentang cara penurunan demam dengan tepat tanpa adanya efek samping.








Daftar Pustaka
1. Williams, L., Wilkins. Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik, E/3. [ed.] Esti Wahyuningsih. [trans.] Alfrina Hany. 3. Jakarta : EGC, 2005.
2. Corwin, Elizabeth J. Buku Saku Patofisiologi Corwin. 3. Jakarta : EGC, 2009. pp. 160.
3. Plipat N. Hakim S, Ahrens WR. Pediatri Emergency Medicine. 2. New York : McGraw-Hill, 2002. pp. 315-24.
4. Kania, Nia. Penatalaksanaan Demam pada Anak. Bandung : s.n., 2007.
5. Atiq, Baitil. Gambaran Pengetahuan-Literatur.Jakarta : FK UI, 2009.
6. Susanti, Nurlaili. Efektifitas Kompres Dingin dan Hangat pada Penataleksanaan Demam. Malang : s.n., April-September 2012, Vol. 1. ISSN
7. Darwis, D., Nurlidar, F., Warastuti, Y., dan Hardiningsih, L. Pengembangan Hidrogel Berbasis Polivinil Porilidon (PVP) Hasil Iradiasi Berkas Elektron sebagai Plester Penurun Demam.Jakarta Selatan : s.n., Agustus 2010, Vol. XI, pp. 56-66. ISSN 1411-3481.
8. Santoso, Trusty T. Senangnya Jadi Ibu : Yuk Rawat Sendiri Si Mungil. [ed.] Shinta. Jakarta : Penebar Plus+, 2010. p. 112.
9. Yuliarti, Nurheti. Sehat, Cantik, Bugar dengan Herbal dan Obat Tradisional. Yogyakarta : Penerbit Andi. 2010. ISBN : 978-979-29-1228-9.
10. Santoso, Hieronymus Budi. Toga 2 Tanaman Obat Keluarga Penyembuh : Cacingan; Demam; Mencret; TBC. Yogyakarta : Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI), 1998. pp. 17-21. ISBN 979-672-266-6.
11. Kusuma, S.A.F., Sopyan, I. Penyuluhan Pengenalan dan Pemahaman Tipe Demam dan Pertolongan Pertamanya melalui Pemanfaatan Potensi Tumbuhan Obat di Desa Pasir Jambu Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung. Bandung : s.n., November 2008.

0 Response to "Pengobatan Tradisional dan Konvensional pada Demam"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel